-Nilai Seikat Kembang-

 

Ditulis oleh Jajang Purkon

Selasa, 10 Februari 2009 09:54

 

Seorang pria turun dari sebuah mobil mewah yang diparkir di depan kuburan

umum. Pria itu berjalan menuju pos penjaga kuburan. Setelah memberi salam,

pria yang ternyata adalah sopir itu berkata, “Pak, maukah Anda menemui

wanita yang ada di mobil itu? Tolonglah Pak, karena para dokter mengatakan

sebentar lagi beliau akan meninggal!” Penjaga kuburan itu menganggukan

kepalanya tanda setuju dan ia segera berjalan di belakang sopir itu.

Seorang wanita lemah dan berwajah sedih membuka pintu mobilnya dan berusaha

tersenyum kepada penjaga kuburan itu sambil berkata, ” Saya Ny . Steven.

Saya yang selama ini mengirim uang setiap dua minggu sekali kepada Anda.

Saya mengirim uang itu agar Anda dapat membeli seikat kembang dan menaruhnya

di atas makam anak saya. Saya datang untuk berterima kasih atas kesediaan

dan kebaikan hati Anda. Saya ingin memanfaatkan sisa hidup saya untuk

berterima kasih kepada orang-orang yang telah menolong saya.”

“O, jadi Nyonya yang selalu mengirim uang itu? Nyonya, sebelumnya saya minta

maaf kepada Anda. Memang uang yang Nyonya kirimkan itu selalu saya belikan

kembang, tetapi saya tidak pernah menaruh kembang itu di pusara anak Anda.”

jawab pria itu.

 “Apa, maaf?” tanya wanita itu dengan gusar. “Ya, Nyonya. Saya tidak menaruh

kembang itu di sana karena menurut  saya, orang mati tidak akan pernah

melihat keindahan seikat kembang. Karena itu setiap kembang yang saya beli,

saya berikan kepada mereka yang ada di rumah sakit, orang miskin yang saya

jumpai, atau mereka yang sedang bersedih. Orang-orang yang demikian masih

hidup, sehingga mereka dapat menikmati keindahan dan keharuman

kembang-kembang itu, Nyonya,” jawab pria itu. Wanita itu terdiam, kemudian

ia mengisyaratkan agar sopirnya segera pergi.

Tiga bulan kemudian, seorang wanita cantik turun dari mobilnya dan berjalan

dengan anggun ke arah pos penjaga kuburan. “Selamat pagi. Apakah Anda masih

ingat saya? Saya Ny . Steven. Saya datang untuk berterima kasih atas nasihat

yang Anda berikan beberapa bulan yang lalu. Anda benar bahwa memperhatikan

dan membahagiakan mereka yang masih hidup jauh lebih berguna daripada

meratapi mereka yang sudah meninggal.

 Ketika saya secara langsung mengantarkan kembang-kembang itu ke rumah sakit

atau panti jompo, kembang-kembang itu tidak hanya membuat mereka bahagia,

tetapi saya juga turut bahagia. Sampai saat ini para dokter tidak tahu

mengapa saya bisa sembuh, tetapi saya benar-benar yakin bahwa sukacita dan

pengharapan adalah obat yang memulihkan saya!”

Jangan pernah mengasihani diri sendiri, karena mengasihani diri sendiri akan

membuat kita terperangkap di kubangan kesedihan. Ada prinsip yang mungkin

kita tahu, tetapi sering kita lupakan, yaitu dengan menolong orang lain.

sesungguhnya kita menolong diri sendiri. Jadikan dirimu tidak merasa lebih

dari orang lain ketika di depan umum ataupun sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: